August, 26-2010
TRAINER : SECOND DAY
Untuk hari kedua UFO, para maba dapat tugas :
1. Membuat deskripsi umum tentang pandangan Indonesia melalui media (teatrikal, mading, film) terserah kelompok masing-masing.
2. Mengumpulkan satu buku rujukan dan meresensinya (minimal 1000 kata !!!)
3. Mengumpulkan kenang-kenangan untuk panitia.
Untuk buku rujukannya, untunglah dapat buku yang terbitan 2010. Judulnya Marketing In Practice karangan Suharno. Masih berbau-bau practice lah, kan mottonya Practice Make Perfect. Mantaps.
Pukul 06.30an pm
Kami kumpul di asrama Ekanita (asrama cewek Unair). Banyak dari kelompok-kelompok lain yang juga bikin tugas disitu. Mungkin karena kita-kita pada ramai atau ibu asramanya yang sensi dengan keramaian jadilah kita diusir dari ruang tamu asrama. Dari yang mulanya tutup pukul 09.00, pukul 08.00 sudah ditutup !!! Nasib. Intuisi sebagai seorang trainer mengatakan kalau saya harus segera mencari tempat yang layak untuk bikin tugas. Untung saja, saya dan M. Hatta sudah kelar beli bukunya. Mana ada insiden memalukan pisand waktu lagi cari buku di Toga Mas. Salah masnya sendiri sih, berpakaian hitam layaknya seorang petugas pencari buku di toko buku. Dengan lugunya saya bertanya,
“Mas, buku Marketing In Practice sebelah mana yah ??”
Waktu saya lihat wajah masnya sekilas kayaknya sih dia sempet shock tapi tetep pasang wajah (terpaksa) senyum waktu saya tanya tempat buku. Dia cuma bisa nunjuk ke arah salah satu petugas yang sebenarnya. Saya melihat antara masnya dengan petugas yang sebenarnya dan langsung paham.
“Oalaaa, maaf mas. Aku kira petugas tadi.”
Mungkin masnya batin, “Sialan, gue dikira petugas yang jaga. Nggak lagi-lagi deh gue pakai baju item kayak gini kalau ke toko buku.” Setelah insiden itu, akhirnya kitapun berhasil, berhasil menemukan buku Marketing In Practicenya.
Ada beberapa tempat yang diusulin sama mereka. Iya, mereka !!! Dan saya yang notabene sebagai trainer sama sekali nggak ada usulan tempat buat pengerjaan tugas. Elvira Ayu ngusulin tempat di lapangan dekat kost-kostannya karena menurut dia banyak anak juga yang mengerjakan tugas di sana, anak-anak cowok ngusulin tempat di perpustakaan, dan Nurul Syamsiyah ngusulin di arena Skate & BMX. Saya langsung berpikir cepat, kalau di lapangan bakal nggak ada colokan buat laptop karena kita butuh untuk nyolokin laptop buat browsing tentang mading, nulis resensi dan pengerjaan di lapangan langsung di coret. Tempat kedua di perpustakaan. Dengan semangat ’45, kitapun langsung menuju ke perpustakaan. Dan berita buruknya PERPUSTAKAAN TUTUP !!! Asemmmm. Setelah itu akhirnya kita, mau nggak mau, ke arena Skate & BMX, karena memang tempat terakhir itulah harapan kita satu-satunya. Masa bodohlah mau ada colokannya atau nggak. Yang penting nyampai dululah. Akhirnya, para cewek yang jadi nebengers (termasuk saya) dengan tidak pakai helm !!! nekad ke sana. Masa bodoh jugalah mau ditilang polisi atau nggak. Perjalanan ke sanapun juga diwarnai kontroversi. Pertama kita kelewatan belokan, seharusnya kita itu belok di belokan kedua bukannya belokan pertama. Padahal di depan delta itu ada beberapa polisi dan kita harus melewati lagi supaya bisa nyampai ke belokan kedua. Nurul Syamsiyah yang menjelaskan dengan berapi-api,
“Jadi itu kita nanti, blaa, blaaa, blaaaa….. Ngerti, mba ??”
Loh, loh kok tiba-tiba dia nanya saya ngerti apa nggak. Salah ni pertanyaannya. Terang aja saya bakal jawab,
“Nggak, dek.” sambil garuk-garuk kepala.
Dan semakin terlihat kebodohan saya di depan mereka. Akhirnya dengan perjuangan melewati polisi-polisi untuk kedua kalinya, hampir ditabrak juga gara-gara ngerem mendadak, sampailah kita di arena Skate & BMX. Dihitung, tiririringggg, hape saya berbunyi.
“Mbak, kayaknya aku nyasar lagi deh. Ini aku masih di depan kampus.”
Duhh, lagi-lagi Polistha anak Jombang nyasar.
“Kau disitu aja, nanti ada yang jemput kok.” balas saya.
Dihitung lagi, kok tetep aja kurang. Loh, si Hidayatul Masitoh kemanakah ?? Dengan tanpa dosa Rizky Rahmansyah bilang,
“Si Yaya nyetak foto, mbanya.” Duhh, ada aja kelakuan anak-anak ini. Yang satu kesasar, yang satu bingung nyetak foto.
“Lahh, kenapa tadi ditinggal, hrrrrr…” Saya sudah keluar taring empat.
“Iya uda gini aja. Ada yang jemput Polis, terus ada yang jemput Yaya juga. Yang nggak bagian penjemputan pada ngerjain tugas sama resensi. Oke-oke”
Mereka yang tetap stay di Skate & BMX mulai sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Sedangkan saya sibuk dengan pengamatan di sekitar lokasi. Berasa di bawah pohon sakura deh waktu itu. Walaupun sakuranya berwarna kuning, hehee. Bunga dari pohon-pohonnya berguguran ke bawah tempat kami mengerjakan tugas. Tak hentinya saya bergumam, “Ya ampun so sweet banget deh.” Dalam hati para mabaku, “Please deh mbanya, biasa aja kaliiii.”
Dan seperti hari sebelumnya, kita berhasil, berhasil mengerjakan tugas dengan baik, benar dan penuh semangat !!! Para mabaku pada ngeluh karena memang pulangnya jadi lebih malam lagi dibanding hari sebelumnya tapi saya (sekali lagi) sebagai trainer yang baik tetap menyemangati mereka.
“Ini kan hari terakhir, dek, kalian pulang malam-malam kayak gini cuma buat ngerjain tugas ospek. Besok-besok kan nggak lagi. Semangat yahh !!!”
Padahal dalam hati pingin banget nangis. Rasanya kok kurang yah waktu dua hari untuk nemenin mereka bikin tugas.
Mereka telah memberikan kesan mendalam, memberi warna dan cerita berbeda, serta memberi kenangan yang mungkin takkan pernah saya dapat selama saya hidup sembilan belas tahun ini. Walaupun dari mereka ada yang sering mengeluh, ada yang cerewet, ada yang pendiem, ada yang tukang kesasar tapi mereka tanggung jawab banget, rela berkorban banget, kompak banget, peduli banget, kreatif banget. Dan semua terangkum dalam satu kalimat SAYA BAHAGIA JADI TRAINER KALIAN!!

Terdapat 0 comments:
Posting Komentar